16 JUNI 2014 PUKUL 10.00 WIB PERESMIAN SENDANGSONO SETELAH RENOVASI

Rabu, 09 Oktober 2013

Maria Ratu Surga: Apa Dasarnya?

Bunda Maria adalah seorang rendah hati, yang menyebut dirinya sendiri ”hamba Tuhan”. Saya merasa gelar Maria sebagai Ratu surga kurang sesuai dengan kerendahhatian Maria. Mengapa Bunda Maria disebut Ratu surga? Apakah ada dasar biblisnya? Apa pentingnya gelar Ratu surga ini untuk kita?

Joko Wiyono, Jakarta

Pertama, gelar Maria Ratu Surga berarti bahwa Maria sudah mencapai kemuliaan dan ikut memerintah di samping Putranya di surga. Kita percaya bahwa Bunda Maria pasti sudah menikmati kemuliaan di surga karena penyatuan dirinya yang luar biasa dengan Yesus, Putranya. Penyatuan diri ini bisa kita lihat dari ziarah iman Maria, mulai dari saat penerimaan Kabar Gembira dari malaikat Gabriel sampai puncak kegelapan imannya ketika melihat Yesus wafat di kayu salib. Sebagai ganjaran atas kesetiaan Maria ini pastilah Yesus mengikutsertakan Maria dalam kemuliaanNya di surga. ”Siapa yang mati bersama Tuhan, akan dibangkitkannya bersama-Nya” (2 Tim 2:11-12; Rom 6:8). Maria telah mati bersama Tuhan, dan karena itu ia dimuliakan bersama Tuhan dengan ”jiwa dan raganya.”

Bunda Maria bukan hanya dimuliakan di surga, tetapi juga ikut serta memerintah di surga sebagai Ratu. Sebagaimana Putra telah menghampakan diri dan karena itu dimuliakan, maka Maria-pun dimuliakan setelah penghampaannya yaitu digelari Ratu Surga (bdk. Fil 2:6-9). Penggelaran Ratu ini bukan karena Maria haus kekuasaan atau ingin berkuasa, tetapi justru karena ketaatan dan kesetiaan Maria pada misi yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Maria yang selalu setia dan tak berdosa serta menyerahkan diri secara total kepada kehendak Allah, sekarang dimahkotai sebagai Ratu surga.

Kedua, keikutsertaan Maria memerintah di surga mempunyai arti sangat penting bagi kita di dunia ini, karena di surga Bunda Maria menjadi pengantara kita. Kepengantaraan Maria ini ”sedikitpun tidak menyuramkan atau mengurangi kepengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya.” (LG 60). Yesus tetap adalah satu-satunya pengantara manusia dengan Allah (1 Tim 2:5), sedangkan Maria adalah pengantara kita dengan Kristus. Hanya Yesuslah satu-satunya pribadi yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Hanya Yesuslah yang mempersembahkan diri-Nya sebagai korban penebusan kepada Bapa.

Ketiga, kepengantaraan Maria dibuktikan dalam peristiwa perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Nampak jelas sekali bahwa Bunda Maria bukanlah mempersulit tetapi malahan mempermudah kita untuk mendapatkan rahmat dari Yesus, Putranya. Kepengantaraan Maria ini bisa dirinci menjadi beberapa butir: (a) Maria ikut serta memohonkan kemurahan Tuhan agar permohonan kita dikabulkan. Kita tidak sendirian. Bunda Maria bahkan berinisiatif mendahului memohonkan untuk kita sehingga bisa dikatakan Maria sudah mempersiapkan jalan bagi kita.

(b) Bunda Maria juga mendampingi kita untuk mengajukan permohonan yang tepat, yaitu berkaitan dengan apa yang benar kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Seringkali kita mengajukan permohonan yang kurang berguna atau bahkan membahayakan kita pada jangka panjang, tetapi tidak kita sadari. Pertimbangan kita seringkali sempit dan jangka pendek. Maria membantu kita untuk mengatasi keterbatasan ini. Bunda kita juga membantu kita untuk memohon dengan cara dan pada waktu yang tepat.

(c) Rahmat Allah akan dilimpahkan, tetapi pasti Allah tidak mau mencelakakan kita dengan rahmat-Nya itu. Karena itu, Maria membantu kita untuk mempersiapkan batin kita agar lebih siap dan pantas menerima rahmat yang kita mohonkan. Kesiapan batin kita akan ikut menentukan pengabulan permohonan kita. Kita mudah meminta tetapi kurang menyiapkan batin.

(d) Bunda Maria membantu kita untuk mengikuti ajaran-ajaran Yesus, seperti yang dikatakannya: ”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5). Maria ingin melahirkan ”Yesus-yesus” yang lain di dalam diri kita. Maria membantu kita untuk menjadi semakin serupa dengan Putranya. Sebagai pribadi yang sudah ”bergaul” lama dengan Roh Kudus, Maria mempunyai modal luar biasa untuk ditularkan kepada saudari-saudara Putranya (bdk. Kis 1:14).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM - HidupKatolik
--Deo Gratias--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar